Sabtu, 17 April 2010

Rukun-Rukun Khutbah



Khutbah adalah ibadah, dan ibadah tidaklah diterima Allah kecuali jika memenuhi dua syarat:
1. Ikhlas karena mencari Wajah Allah semata dan

2. Ittiba’ (mengikuti) Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Berdasarkan ini, maka setiap khotib hendaklah memperhatikan apa saja yang dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam khutbah-khutbah beliau.
Contoh-contoh yang diwariskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bagi kita, oleh para ulama dipilah menjadi beberapa kategori: syarat-syarat sah khutbah, rukun-rukun khutbah, sunnah-sunnah khutbah, adab-adab seorang khotib dan sebaginya. Hanya saj para ulama , mutaqaddimin maupun muta’akhkhirin berbeda pandangan dalam memilah teladan Nabi tersebut.
Berikut ini adalah

contoh perbedaan pendapat (ikhtilaf) yang terjadi diantara para ulama tentang rukun-rukun khutbah:
Al-Hanafiyyah berpendapat : rukun khutbah hanya satu, yaitu menyebut (berzikir) kepada Allah secara mutlak; dengan bertasbih; atau bertahlil; atau bertahmid atau semacamnya.
Al-Malikiyyah berpendapat : rukun khutbah adalah satu, yaitu cukup hanya berisi peringatan (tentang neraka) atau kabar gembira (dengan surga).
As-Syafi’iyyah berpendapat : rukun-rukun khutbah ada lima : pertama, memuji Allah (hamdalah); kedua, bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam; ketiga, berwasiat dengan takwa; keempat, membaca suatu ayat dari Al-Qur’an; dan kelima, berdo’a untuk kaum muslimin.
Al-Hanabilah berpendapat : rukun khutbah ada empat: pertama, memuji Allah (hamdalah); kedua, bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam; ketiga, membaca suatu ayat dari Al-Qur’an; dan keempat, berwasiat dengan takwa.(dikutip dengan ringkas dan adaptasi dari Al-Fiqh ala al-madzahib al-arba’ah 1/304-305, Dar Al-Hadits,Kairo-Mesir,1424 H)
Dan ada juga yang berpendapat enam, bahkan ada juga yang tidak menyebutkannya sebagai rukun atau syarat, tetapi hanya sunnah-sunnah khutbah. (Lihat: Asy-Syarh Al-Mumti’ oleh Al-Alamah Ibnu Utsaimain, 5/50-55; Khutbah AlJum’ah Ahkamuha wa Adabuha fi Fiqh Al-Islam oleh Nazar bin Abdul Karim Al-Hamdani; Shahih Fiqh As-Sunnah oleh Abu Malik 1/581-588)
Kita berkesimpulan bahwa poin-poin berikut ini adalah masalah-masalah yang tidak boleh diabaikan ole para khotib, terlepas dari perbedaan pendapat yang terjadi diantara para ulama; apakah itu wajib atau sunnah.
1. Memanjatkan puji dan sanjungan kepad Allah, dengan اْْلحَمْدُ ِلله atau اَحْمَدُ اللهِ atau اِنَّ اْلحَمْدَ ِللهِ atau lafazh-lafazh semisal (lihat: Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Mustaqni’ oleh Al-Allamah Ibnu Utsaimin Rahimahullah, 5/52).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
”Setiap urusan (penting) yang membutuhkan perhatian yang tidak dimulai dengan Alhamdulillah maka ia terputus dari berkah)”.(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 2/359, Abu Dawud no.4840, Ibnu Majah no. 1894)
Dalam lafaz lain,
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah dihadapan manusia dengan memuji Allah serta menyanjung-Nya dengan (pujian dan sanjungan) yang layak bgi-Nya, kemudian beliau mengatakan, “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada sesuatu pun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan maka tidak ada sesuatu pun yang dapat memberinya petunjuk, dan sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah…) (HR.Muslim no.867). Silahkan lihat tulisan dalam blog ini mengenai khutbah haajah.

2. Membaca Syahadat
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda, “Setiap khutbah yang didalamnya tidak ada syahadat, maka ia adalah seperti tangan yang buntung”.

3. Berwasiat dengan takwa kepada Allah
Wasiat yang dimaksudkan ialah bahwa khotib berwasiat kepad kaum muslimin yang mendengarkan agar bertakwa kepada Allah, baik dengan mengatakan اُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى الله (saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah)
atau يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ (hai orang-orang yag beriman, bertakwalah kalian kepada Allah). (Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Muqtani’, 5/55). Seperti yang dicontohkan juga oleh Nabi dengan menyertai “khutbah haajah” disetiap khutbahnya. Juga berdasarkan hadits dari Jabir dibawah ini.

4. Membaca ayat Al-Qur’an
Dari Jabir bin Samurah Radhiallahu ‘anhu, dia berkata,”Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan dua khutbah dimana beliau duduk diantara keduanya; (dan dalam khutbah itu) beliau membaca Al-Qur’an dan mengingatkan manusia”. (Diriwayatkan oleh Muslim no.862)

5. Menyampaikan nasihat bagi kaum muslimin
Dari Jabir bin Samurah Radhiallau ‘anhu, dia berkata,”Sholat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sedang – sedang saja dan khutbah beliau juga sedang-sedang saja; dimana beliau membaca ayat-ayat dari Al-Qur’an dan mengingatkan manusia”. (HR.Abu Dawud no.1094)

6. Shalawat dan salam atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
Perkataan Umar bin Khottob Radhiallahu ‘anhu, “Sesungguhnya doa itu terhenti diantara langit dan bumi, tidak akan naik sedikitpun dari tempat itu sampai engkau bershalawat atas Nabimu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR. Tirmidzi no.486 dan Silsilah Ash-Shahihah karya syaikh Nashiruddin Al-Albani no.2035)

7. Berdo’a untuk kaum muslimin
Dari Hushain bin “Abdurrahman As-Silmi, dia berkata,”Aku berada disebelah Umarah bin Ruwaibah Radhiallahu ‘anhu, sedangkan Bisyir (ibnu Marwan Al-‘Amawi); penguasa di Irak) sedang member khutbah kepada kami. Tatkala Bisyir berdo’a dia mengangkat kedua tangannya. Maka ‘Umarah Radhiallahu ‘anhu pun berkata,”Semoga Allah memburukkan dua tangan ini. Aku pernah melihat Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah, dan ketika berdo’a beliau melakukan seperti ini.” Lalu Umarah pun mengangkat jari telunjuknya. (HR. Muslim 2/595 no.874, lafaz ini milik Imam Ahmad 4/136 no.17263)
Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a dalam khutbah beliau dan tentu saja itu adalah contoh yang harus diikuti oleh setiap khotib.

Inilah tujuh poin yang harus diperhatikan oleh seorang khotib. Dan perlu diperhatikan bahwa urutan ini tidak bersifat mutlak; sebagian kalangan misalnya meletakkan shalawat pada urutan ketiga, maka tidak mengapa.


(Dikutip dengan ringkas dan diadaptasi dari Khutbah Jum’at pilihan Setahun, Drs. Hartono Ahmad Jaiz Dkk, Daarul Haq,Jakarta,2009 M)



0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:
Free Blog Templates